Tumbilotohe, Cahaya Hati Masyarakat Gorontalo

foto: gorontaloprov.go.id

IndonesiaTravel —- Di penghujung Ramadhan, tepatnya pada hari ke 27,28 dan 29 Ramadhan, masyarakat Gorontalo merayakan Tumbilotohe yang artinya menghidupkan cahaya atau lampu. Tradisi cahaya ini pernah memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) pada tahun 2007, karena tercatat 5 juta lampu terpasang di kota Gorontalo.

Tradisi ini sebenarnya mempunyai relijius yang mendalam. Dimulai pada masa Sultan Amai (1472 – 1550) , raja pertama Kerajaan Gorontalo yang memeluk agama Islam. Tradisi Tumbilotohe tercatat dimulai tahun 1525. Waktu itu rakyat Kerajaan Gorontalo dalam menyambut malam Lailatul Qadar, berjalan beriringan menuju masjid dengan menyalakan obor. Saat itu obor masih menggunakan bahan damar yang dibakar.

Tradisi ini berlanjut sampai sekarang, dengan menyalakan obor di depan rumah pada malam ke 27, 28 dan 29 bulan Ramadhan. Jika dulu orang menggunakan damar sebagai bahan bakar obor, perkembangan berikutanya adalah menggunakan minyak tanah dan minyak kelapa sebagai bahan bakar obor. Tumbilotohe ini dilakukan di seluruh provinsi Gorontalo, tidak hanya di kota Gorontalo.

Menurut penuturan Alim S Niode, Sekjen Dewan Adat Gorontalo, tradisi Tumbilotohe pada awalnya tidak hanya memasang obor, tetapi diikuti ritual yang lain, yaitu mengaji dari rumah ke rumah, menggunakan baju dengan wewangian tradisional (Langgilo) dan siapa yang pertama kali menyalakan cahaya.

Mengaji dari rumah ke rumah, biasanya dilakukan kelompok usia tertentu dan pada malam hari. Misal laki-laki remaja atau dewasa, perempuan remaja atau dewasa. Mereka secara bergiliran mengaji pindah dari rumah ke rumah, selama bulan puasa. Dan dalam kelompok ini setiap orang dapat memberi koreksi satu sama lain ketika lantunan mengajinya kurang tepat. Selama bergerak dari rumah ke rumah itulah, iringan obor terlihat.

“Tujuannya ini membuat mereka saling belajar dan pandai mengaji,”tutur Alim S Niode.

Siapa yang pertama kali menyalakan cahaya, dalam tradisi awal Tumbilotohe, adalah mereka yang dituakan. Jika masa kerajaan, maka Sultan yang pertama kali menyalakan cahaya (obor) atau jika di rumah adalah kepala keluarga. Maknanya, mereka yang dituakan dianggap sudah bersih hatinya, selama masa puasa. Cahaya hati yang muncul diwujudkan dalam cahaya lahiriah dalam bentuk obor.

Ketika menyalakan obor inilah, masyarakat Gorontalo juga mengenakan wewangian tradisional yang konon berasal dari campuran daun jeruk, kelapa parut, daun pandan, nilam, kulit jeruk, daun Ulu-ulu dan daun kunyit yang direbus bersama hingga menimbulkan bau harum. Mengenakan pakaian yang wangi merupakan simbol kesiapan hati menyambut Idul Fitri.

Namun seiring waktu, tradisi mengaji dari rumah ke rumah, wewangian tradisional dan siapa yang pertama menyalakan cahaya mulai pudar. Saat ini Tumbilotohe tinggal tradisi menyalakan cahaya atau obor saja.

Alim S Niode berharap tradisi Tumbilotohe ini diajarkan dalam muatan lokal pendidikan sekolah di Gorontalo. Agar generasi seterusnya tidak hanya mengerti tentang menyalakan obor/lampu tetapi juga makna di balik tradisi ini.

“Tradisi ini simbol kebersihan hati, cahaya batiniah menjelang Idul Fitri, “kata Alim S. Niode, yang juga pengajar di Universitas Negeri Gorontalo, sekaligus Kepala Ombudsman Perwakilan Provinsi Gorontalo.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*